Wawancara Zuckerberg yang berakhir petaka

Photobucket

Mark Zuckerberg atau dikenal hanya Z (Facebook portal yang sedang hangat dibicarakan di Silicon Valley) dalam panggung SXSW di Austin Texas diwawancarai oleh Sarah Lacy. Nah yang membuat petaka ternyata bukan si Mark tapi si pewawancara yang menimbulkan keonaran dan ketidakpuasan audiens.

Dalam rekaman video nampak bahwa Sarah seakan memonopoli Mark, tidak mengetahui audiens apa yang dihadapinya, tidak memberikan kesempatan Q&A yang memadai. Karena sebagian besar adalah web developer, mungkin kisah tentang berapa banyak duit yang dihasilkan Facebook menjadi tidak penting.

Yang menjadi makin memburuknya situasi adalah digunakannya Twitter (layanan microblogging) oleh para pengunjung untuk saling mengomentari apa yang sedang terjadi di panggung. Istilahnya adalah : ‘back channel’ atau menciptakan jalur di luar topik yang sedang berlangsung. Letupan Twitter ini dimulai oleh Robert Scoble seorang blogger ternama, diikuti berbagai komentar disana.

Dalam wawancara dengan Leo Laporte di podcast TwiT Scoble menyadari bahwa kunci petaka memang bagaimana mengontrol massa. Ia sendiri mengakui menjadi bagian dari petaka panggung Z-Lacy dan sudah meminta maaf kepada Lacy. Hanya saja berbagai komentar tetap saja mengalir tentang bagaimana tidak proffesional-nya kerja jurnalistik Sarah Lacy yang bekerja untuk Businessweek ini. Bahkan ada yang mengaitkannya dengan gender dan isu yang makin melebar. Sarah sendiri akan menerbitkan buku yang banyak mengisahkan Z tentang fenomena kemunculan Facebook sebagai masa depan web portal.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini. Diantaranya adalah bagaimana teknik mewawancari yang baik dan benar, bagaimana kekuatan massa yang digalang dari microblogging secara ethnography.

Links :

Transkrip wawancara di Valleywag

Liputan menyeluruh dari Techmeme

Komentar keras dari blogger lain, diantaranya BuzzMachine, Crunch Gear dan tentu berita dari CNets.

About these ads

4 Balasan ke Wawancara Zuckerberg yang berakhir petaka

  1. enkerli mengatakan:

    Thanks for the ping.
    Unfortunately, I can’t read Bahasa Indonesia and automatic translation is limited. Thankfully, you seem to know English quite well. (I’m a native French-speaker.)
    Kataku isn’t translating “mewawancari” and I’m assuming something in this last paragraph refers to “interviewing.” Just to make sure, and please don’t laugh if this is wrong… Does this last paragraph say something to the effect that “among things which can be learned from the Lacy/Zuckerberg incident is the fact that ‘tried and true’ interviewing techniques may need to change in the context of increased pressure from microblogging?” Or are you referring to my comments on microblogging from an ethnographic perspective?
    Sorry if this is off.

    Thanks again!

  2. ambar mengatakan:

    nups, I am not laugh. You are correct. Mewawancarai means interviewing in Bahasa Indonesia. Yes I referred to see the effect of microblogging into ‘mob mentallity’ from ethnography view. The things that we can learn from Z-Lacy saga are how to conduct live interview in good manner, interactive with audiences. Another is (like scoble mention) Twitter’s power to stir the mood of audiences and also created back channel can be devastating personally in such very short time. Thanks.

  3. dil okullari mengatakan:

    do you know any information about this in english?

  4. ambar mengatakan:

    I gave you everything there (on links).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: